Artikel-artikel lainnya dapat dibaca di sini

 

ACUAN TARIF PENERJEMAHAN

Pemerintah Indonesia telah mengakui penerjemah sebagai jabatan fungsional dan selain itu juga menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan PMK No. 72/PMK.02 Tahun 2013 Tentang Standar Biaya Masukan Tahun Anggaran 2014 yang mengatur Satuan Biaya Penerjemahan dan Pengetikan (halaman 36 butir 5).

 

Perincian biaya tersebut adalah sebagai berikut: (Cuplikan)

 

No.

URAIAN

SATUAN

BIAYA TA 2012
(Rp)

14

SATUAN BIAYA PENERJEMAHAN DAN PENGETIKAN

14.1

Dari Bahasa Asing ke Bahasa Indonesia

   

a.

Dari Bahasa Inggris

Halaman jadi

140.000

b.

Dari Bahasa Jepang

Halaman jadi

220.000

c.

Dari Bahasa Mandarin, Belanda

Halaman jadi

220.000

d.

Dari Bahasa Prancis, Jerman

Halaman jadi

160.000

e.

Dari Bahasa Asing Lainnya

Halaman jadi

160.000

14.2

Dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Asing

   

a.

Ke Bahasa Inggris

Halaman jadi

140.000

b.

Ke Bahasa Jepang

Halaman jadi

220.000

c.

Ke Bahasa Mandarin, Belanda

Halaman jadi

220.000

d.

Ke Bahasa Prancis, Jerman

Halaman jadi

160.000

e.

Ke Bahasa Asing Lainnya

Halaman jadi

160.000

 

Peraturan selengkapnya dapat diunduh dari situs Kementrian Keuangan (file Pdf 7MB).

 

Pada prinsipnya HPI mendukung tarif yang ditetapkan dalam PMK (Peraturan Menteri Keuangan), namun tidak melarang penerjemah untuk memberlakukan tarif yang berbeda karena pada akhirnya tarif yang diberlakukan adalah yang disepakati antara penerjemah dan pengguna jasa.

Sebagaimana dapat dilihat di atas, PMK tersebut tidak membedakan antara tarif penerjemahan dari bahasa asing ke bahasa Indonesia dan dari bahasa Indonesia ke bahasa asing, meskipun kita tahu ada perbedaan dalam tingkat kesulitan. Selain itu, tarif PMK juga tidak memperhitungkan perbedaan tingkat kesulitan yang terkait dengan jenis naskah yang diterjemahkan.

Dengan memperhatikan hal ini, penerjemah dapat mengenakan biaya tambahan, baik tambahan yang dimasukkan ke dalam tarif yang ditawarkan maupun sebagai biaya tambahan terpisah (surcharge).

Contoh ‘biaya tambahan’ adalah biaya:

penerjemahan dari bahasa ibu ke bahasa asing

penerjemahan naskah teknik

penerjemahan naskah kedokteran

penerjemahan naskah hukum

penerjemahan naskah bidang minyak dan gas

penerjemahan oleh penerjemah bersumpah

penerjemahan naskah berbentuk cetakan atau gambar (DTP Surcharge)

penerjemahan dengan tenggat waktu yang sangat pendek (rush order)

dan lain-lain.

Acuan Format Terjemahan Halaman Jadi

Mengingat PMK tersebut tidak mencantumkan format ‘halaman jadi’, kami merasa perlu memberikan rekomendasi format sebagai berikut:

Ukuran kertas

:

A4 (21 x 29,7 cm)

Margin (atas, bawah, kiri, kanan)

:

2,5 cm

Huruf

:

Arial

Ukuran huruf

:

12 points

Jarak antarbaris

:

Dobel

Format di atas menghasilkan rata-rata 250 kata bahasa Indonesia per halaman.

Acuan Tarif Per Kata

Sebagaimana sangat lazim digunakan di dunia terjemahan internasional, meskipun ada pengecualian, tarif penerjemahan pada umumnya menggunakan tarif per kata bahasa sumber. Penggunaan cara perhitungan berdasarkan naskah bahasa sumber ini terutama memberikan  dua manfaat penting jika dibandingkan dengan tarif per halaman, yakni:

Sebelum pekerjaan dimulai, penerjemah dan pengguna jasa sudah mengetahui seluruh nilai pekerjaan; dalam hal tarif per halaman jadi, seluruh biaya baru dapat diketahui setelah pekerjaan selesai;

Penerjemah tidak dapat dituduh menggunakan kata-kata yang tidak perlu dengan tujuan memperbanyak jumlah kata.

Acuan Tarif Penyuntingan

Penerjemah juga sering diminta untuk melakukan pekerjaan penyuntingan. Tarif yang lazim untuk jenis pekerjaan ini adalah sekitar 50% dari tarif penerjemahan dan dihitung berdasarkan naskah terjemahan.

Acuan Tarif Penerjemahan Buku

Perlu diingat bahwa tarif PMK di atas berlaku untuk penerjemahan nonbuku. Tarif yang berlaku dalam industri penerbitan menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan tarif penerjemahan nonbuku. Tarif penerjemahan buku berkisar antara Rp5 dan Rp15 per karakter atau Rp7.500 dan Rp20.000 per halaman jadi. Namun, sebagaimana telah disebutkan di atas, harga akhir ditentukan berdasarkan kesepakatan antara penerjemah dan pengguna jasa.

Demikian acuan tarif ini kami sampaikan agar dapat menjadi pedoman bagi para penerjemah dalam menentukan harga.

 

Jakarta, 18 Februari 2014

Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI)

Sumber: HPI 

 


 

Terjemahan Kata “Biaya”—Cost, Charge, Price, Fee atau Fare?

 

Salah satu tantangan dalam menerjemahkan adalah ketika kita menemui suatu kata dalam teks sumber tetapi bingung untuk memilih di antara beberapa padanan yang mungkin dalam bahasa target. Perhatikan contoh kalimat di bawah ini dengan memfokuskan perhatian kita pada kata “biaya”:

Teks sumber: “Perusahaan akan membayar biaya penyelesaian hubungan kerja.”

Kata “biaya” adalah kata benda yang memiliki makna “uang yang dikeluarkan untuk mengadakan (mendirikan, melakukan, dsb) sesuatu; ongkos; belanja; pengeluaran” (KBBI).

Jika diterjemahkan secara literal ke dalam bahasa Inggris, “biaya” memiliki beberapa padanan yang mungkin, antara lain: cost, charge atau fee. Namun, pada konteks ini yang paling tepat di antara pilihan tersebut adalah “cost”. Mengapa demikian? Berikut adalah perbedaan antara cost, charge, fee serta beberapa kata lain yang dapat menjadi padanan kata “biaya” yaitu price dan fare beserta dengan makna dan contoh penggunaannya dengan merujuk pada kamus Longman Dictionary Online.

Cost, costs, price, charge, fee, fare

 “Cost” digunakan untuk pembayaran jasa atau kegiatan, bukan untuk “benda”.

The total cost of the trip was under $500.  

I worked out the cost of the repairs.  

Nah, ada juga kata “costs” dalam bentuk jamak lho.

“Costs” (dalam bentuk jamak) adalah jumlah uang yang dihabiskan untuk menjalankan suatu usaha/bisnis atau untuk suatu aktifitas tertentu.

The shop was not making enough money to cover its costs.  

“Price” mengacu pada pembayaran suatu (benda, item, makanan, dsb) seperti di toko atau restoran.

We are cutting all our prices (NOT costs) by 50% for one day only!

We were shocked by the price of a cup of coffee in London.  

“Charge” merujuk pada biaya yang diperlukan untuk membayar jasa atau menggunakan sesuatu. For a small charge we will also make your hotel reservations.

“Fee” digunakan untuk:

  1. Mengacu pada biaya masuk atau biaya bergabung.

The gallery charges no entrance fee. 

The fee for membership is £25 per year. 

  1. Digunakan juga untuk membayar jasa profesional

The lawyer explained her fees.

“Fare” adalah jumlah yang harus dibayarkan untuk bepergian dengan bus, kereta api, pesawat dsb.

I need some money for my bus fare.

His parents paid his fare to Sydney.  

 

Namun, jika si penerjemah lebih mengupas makna implisitnya, kata “biaya” pada kalimat: “Perusahaan akan membayar biaya penyelesaian hubungan kerja.” bisa jadi adalah “pesangon”, “uang penghargaan” atau sejenisnya karena ada frasa “penyelesaian hubungan kerja” yang mengindikasikan demikian. Nah, tentunya si penerjemah tidak ingin tebak-tebak buah manggis karena jika tebakannya salah ia mungkin akan menciptakan distorsi makna. Di sinilah peranan konteks untuk mengetahui makna “biaya”. Berikut adalah dua pilihan terjemahan.

Teks sumber: “Perusahaan akan membayar biaya penyelesaian kerja.”

Alternatif terjemahan:

1. The Company shall pay the cost for the employment settlement.

2. The Company shall pay the severance pay for the employment settlement.

Apa yang membedakan terjemahan pertama dengan kedua? Terjemahan pertama cenderung “literal”. Pada konteks ini, prosedur literal tidaklah salah untuk diterapkan. Bisa saja si penerjemah mencari “jalan aman” daripada salah menebak. Sedangkan terjemahan kedua dengan menerjemahkan kata “biaya” menjadi “severance pay” (pesangon), si penerjemah mungkin telah memahami dan menyesuaikan dengan konteks setelah ia melihat kalimat-kalimat lain dalam teks sumber dan kemudian menyimpulkan bahwa biaya di sini adalah pesangon. Contoh ini adalah salah satu kondisi yang mengilustrasikan bahwa penerjemahan bukanlah sesuatu yang mudah. Bahkan teks sumber yang bahasanya kurang mudah dimengerti atau ambigu dapat membuat si penerjemah memutar otak lebih keras. Di sinilah peranan konteks. Nah, apa yang terjadi jika si penerjemah tidak menemukan kepastian meski sudah menyesuaikan dengan konteks? Lebih baik bertanya kepada klien secara langsung daripada salah menerjemahkan. Jadi manakah yang benar? “Cost” atau “severance pay”? Jawabannya: “cost” dapat berterima karena teks sumber hanya menyatakan “biaya” sedangkan “severance pay” bisa saja benar tetapi harus dicek/dipastikan sesuai konteksnya. Demikianlah kurang lebih salah satu contoh dilema dalam menerjemahkan.

Kesimpulan yang dapat dipetik dari artikel ini adalah: 1) pemahaman unsur-unsur pembeda pada padanan-padanan di teks target sangat diperlukan. Solusinya adalah “buka kamus yang tepat dan cermat dalam memilih”, 2) mengetahui konteks dengan benar dengan melihat hubungan suatu kata dengan kata atau frasa atau kalimat-kalimat lain dalam teks sumber.

Demikianlah artikel ini, sampai jumpa pada artikel berikutnya!

 

Referensi:

Longman Dictionary of Contemporary English

 

Kontributor: Luh Windiari